Selasa, 22 Oktober 2024

Kamis, 12 September 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID

Pada kesempatan kali ini saya Intan Siti Nurjanah, CGP Angkatan 10 kota Depok akan menuliskan Koneksi Antar Materi pada Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif Pada Murid, sebagai pemenuhan tugas CGP. 

Pada modul  saya banyak belajar hal baru. Dari awal saya menjadi guru, dalam setiap kegiatan program sekolah, biasanya program tersebut sudah ada atau sudah menjadi program yang biasa dilaksanakan. Ternyata dalam membuat program sekolah, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Awalnya saya hanya memahami program ekstrakurikuler saja, namun ternyata ada 2 jenis program lain, yaitu intrakurikuler dan kokurikuler. Dimana ketiga jenis program tersebut saling berkesinambungan.

Saya merasa sangat terbantu sekali dengan pembelajaran pada modul 3.3 ini. Saya jadi lebih memahami lebih dalam lagi tentang program sekolah, terutama intra kurikuler dan kokurikuler. Saya jadi mampu membedakan kedua program tersebut. Berawal dari ketidaktahuan dan ketidakpahaman, saya mempelajari setiap sub-modul pada modul 3.3 ini dan juga terlibat dalam forum diskusi bersama rekan-rekan CGP lainnya. Hal ini menambah pemahaman dan wawasan saya tentang program yang berdampak positif pada murid. Dalam setiap proses pembelajaran yang saya lalui bersama Fasilitator, PP, Instruktur, dan juga rekan CGP lainnya, saya menjadi paham bahwa dalam membuat sebuah program, kita harus melibatkan berbagai pihak. Dalam hal ini, kita juga dapat meminta pendapat murid, dan juga orang tua murid terkait program yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Namun, ilmu dan pemahaman yang saya miliki saat ini masihlah harus saya asah lebih dalam lagi. Saya masih harus banyak membaca dan juga berdiskusi terkait program sekolah. Karena bagi saya, memahami suatu ilmu tidaklah ada batasnya, Ilmu pengetahuan yang kita pelajari ada yang bersifat dinamis. Dimana ilmu tersebut dapat berkembang susuai dengan perkembangan zaman.

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa dalam menentukan program sekolah, biasayanya program yang dijalankan merupakan program yang memang biasa dilakukan,bukanlah program baru yang mungkin dicetuskan berdasarkan tantangan yang ada saat ini. Dalam hal ini, saya sebagai guru sebenarnya ingin sekali mengemukakan ide-ide yang saya miliki untuk melaksanakan program sekolah yang berpihak pada murid. Namun, terkadang saya merasa takut untuk mengutarakan ide saya itu. Saya merasa takut merasa kecewa jika ide saya tidak diterima. Bagaimana kita dapat menjadi pendidik yang mampu mengutarakan pendapat dan mengesampingkan perasaan? Hal ini yang masih menjadi ganjalan dala diri saya. 

Jika kita melihat pada kurikulum merdeka yang saat ini kita jalani. Pembelajaran seharusnya berpihak kepada murid. Keberpihakan kita terhadap murid bukan berarti segala sesuatu itu harus untuk murid. Namun kita harus melibatkan murid dalam setiap kegiatan di sekolah. Meski hanya meminta pendapat, hal ini akan berdampak pada murid-murid kita. Hal ini yang harus saya mulai dari detik ini agar saya juga dapat menjadi pribadi yang mampu menghargai setiap pendapat. Dan juga mampu untuk menerima jika pendapat saya belum bisa diterima.

Di masa yang lalu, mungkin dari awal saya mengajar, saya masih menjadi guru yang mengajar sesuai dengan buku. Apa yang ada dibuku pelajaran, maka itulah yang dipelajari oleh murid-murid saya. Namun saat ini, saya belajar menerapkan bahwa apa yang murid pelajari adalah segala hal yang dapat mendukung mereka agar menjadi manusia yang beradab dan berilmu. Dimana murid-murid saya dapat belajar dari lingkungan sekitar sekolah. Murid saya dapat belajar apa yang ingin mereka pelajari. Murid saya dapat belajar hal-hal yang sedang menjadi tren dimasa kini. Murid saya dapat belajar sesuai dengan kebutuhan belajar mereka masing-masing. Dalam hal ini, saya sebagai pendidik, hanya sebagai pengawas, dimana saya harus dapat memastikan bahwa murid-murid saya mendapat pembelajaran yang berdampak positif untuk diri mereka.

Salah satu hal baru yang saya dapatkan dari rekan sejawat saya terhadap program sekolah, yaitu ada kalanya kita dapat melibatkan masyarakat di sekitar sekolah kita untuk menjadi objek pembelajaran murid. Dimana murid-murid kita dapat belajar ciri khas dari suatu lingkungan yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Saya mendapat contoh baru dari rekan sejawat saya, dimana disekitar sekolah beliau ada sebuah rumah adat betawi. Rumah adat betawi ini menjadi sarana belajar murid dalam memahami keragaman budaya yang ada di Indonesia. Dan kegiatan ini menjadi program sekolah yang dilaksanakan.

Sungguh luar biasa ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan pada modul ini. Pemahaman dan juga banyak inspirasi baru yang saya dapatkan. Sehingga kelak saya dapat merancang program yang berdampak positif pada murid.

Selasa, 27 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

CGP ANGKATAN 10

KOTA DEPOK

Nama CGP : Intan Siti Nurjanah, S.Pd.


    Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah individu yang memfokuskan diri pada peningkatan proses belajar dan mengajar dengan memanfaatkan berbagai sumber daya secara efektif. Mereka berperan penting dalam merancang, mengorganisir, dan mengelola sumber daya pendidikan—baik itu sumber daya manusia, material, maupun finansial—untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Pemimpin ini tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong kolaborasi, inovasi, dan pengembangan profesional di lingkungan pendidikan.

     Di lingkungan sekolah kita dapat menggunakan berbagai sumber daya seperti teknologi. Dengan memanfaatkan perangkat digital guna memperkaya materi pelajaran dan mendukung gaya belajar yang berbeda. Selain itu kita dapat berkolaborasi dengan siswa maupun rekan sejawat lainnya untuk kegiatan kelompok dan proyek yang memanfaatkan sumber daya yang ada.

      Selain itu pada lingkungan sekolah kita dapat memanfaatkan berbagai kegiatan seperti pelatihan dan workshop agar guru dapat memanfaatkan sumber daya pendidikan secara optimal. Manajemen anggaran juga diperlukan guna memenuhi pengadaan dan pemeliharaan dari sarana dan prsarana yang terdapat di sekolah.

         Pada lingkungan masyarakat sekitar sekolah kita dapat kita dapat membangun hubungan kemitraan untuk dapat menambah dukungan dan sumber daya seperti : sponsor untuk kegiatan sekolah, maupun relawan atau volunteer. Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan dengan memberikan informasi dan pelatihan tentang cara mendukung tumbuh kembang anak-anak di rumah. Selain itu kita juga dapat memanfaatkan potensi sumber daya likal seperti: fasilitas umum, sumber daya alam, atau keahlian profesional di komunitas, untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.

      Pengelolaan sumber daya yang tepat memiliki dampak signifikan terhadap kualitas proses pembelajaran murid. Pengelolaan yang efektif memastikan bahwa semua elemen yang diperlukan untuk mendukung belajar tersedia dan digunakan secara optimal, sehingga menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran. Sebagai contoh konkret dalam pengelolaan sumber daya yang tepat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sebagai berikut :

1. Penggunaan teknologi

Teknologi pendidikan seperti perangkat lunak pembelajaran, aplikasi interaktif, dan sumber daya online dapat memperkaya pengalaman belajar murid dengan menyediakan berbagai alat dan bahan ajar yang inovatif.

2. Pengelolaan waktu

Alokasi waktu yang efektif untuk berbagai aktivitas pembelajaran membantu memastikan bahwa semua aspek kurikulum tercakup dan memberikan waktu yang cukup untuk kegiatan yang mendalam dan reflektif.

3. Pengelolaan fasilitas

Fasilitas yang baik, seperti ruang kelas yang nyaman, laboratorium yang lengkap, dan perpustakaan yang terorganisir dengan baik, mendukung pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan.

4. Penggunaan bahan ajar

Bahan ajar yang berkualitas, seperti buku teks yang terbaru, materi digital, dan alat peraga, membantu menjelaskan dan mengilustrasikan konsep-konsep yang diajarkan dengan cara yang lebih jelas dan menarik.

5. Dukungan profesional

Pelatihan dan pengembangan profesional untuk guru memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan dan pengetahuan terbaru untuk mengelola sumber daya dengan baik dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif.

           Sebagaimana tujuan dari pendidikan yaitu berpihak kepada murid. Maka sebagai seorang pemimpin yang bijak kita harus dapat menganalisa kebutuhan belajar murid. Tidak hanya pemenuhan sarana dan prasarana sekolah, media pembelajar, dan aspek fisik lainnya. Kita juga harus dapat mengidentifikasi kemampuan tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah. Selama proses pembelajaran, keterlibatan murid dan pendidik dan tenaga kependidikan juga harus saling mendukung. Bagaimana seorang pemimpin dalam mengelola sumber daya manusia di sekolah agar dapat memenuhi kebutuhan belajar murid. Pengelolaan ini juga termasuk dalam hubungan sosial dan emosional antar sumber daya manusia di sekolah. Jika hubungan sosial dan emosional antar warga skeolah terjalin dengan baik, maka segala daya dukung yang butuhkan murid untuk mencapai setiap tujuan pembelajaran akan berjalan dengan baik. Dengan memanfaatkan sumber daya secara efisien dan efektif, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, relevan, dan menyeluruh, sehingga mendukung pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi murid.


Selasa, 13 Agustus 2024

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

Pada kesempatan kali ini saya Intan Siti Nurjanah akan membuat tugas Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin pada Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok.

Tujuan pada kegiatan ini diantaranya :

  1. CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.
  2. CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator untuk mengambil makna dari pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.
Ada sebuah kutipan dari Bob Talbert "Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best" (Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik).

Pandangan saya terhadap kutipan tersebut bahwa dalam hidup ini hal-hal yang umumnya harus kita ajarkan kepada anak-anak merupakan hal yang baik, namun adalah hal lain yang lebih baik lagi untuk kita ajarkan yaitu betapa pentingnya kita mengajarkan kesadaran pentingnya hal yang mereka pelajari sebagai bekal dalam menjalani hidup ini.

Melalui kutipan tersebut juga saya menyadari bahwa tidak cukup jika saya hanya belajar teori menjadi pemimpin yang baik. Tentunya hal yang lebih penting adalah bagaiaman saya dapat belajar melalui pengalaman dari pemimpin-pemimpin di sekitar saya agar saya dapat mengambil pembelajaran yang positif. 

Sebagai seorang pemimpin pembelajar saya dapat memanfaatkan ilmu dalam pengambilan keputusan ini untuk mnentukan setiap langkah yang akan saya tuju pada setiap pembelajarannya. Saya akan memanfaatkan ilmu pengambilan keputusan ini tidak hanya untuk menentukan arah tujuan saya dalam memberikan pengajaran, namun akan saya gunakan juga ketika menemukan berbagai kasus yang muncul dari murid-murid saya.

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Sebagaimana kita memantaskan diri ketika menggunakan sebuah pakaian agar terlihat bagus, seperti itulah pendidikan. Dimana proses pembelajaran ini menjadi seni tersendiri bagi guru dan murid untuk dapat mencapai sebuah tujuan, menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia.

Sebagai seorang pemimpin dalam menentukan keputusan yang bijaksana dan efektif sebagaimana Ki Hadjar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus mengutamakan kesejahteraan dan pengembangan potensi individu. Setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin maka harus mempertimbangkan kesejahteraan sumber daya manusia.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan. Nilai-nilai tersebut adalah landasan yang akan membentuk pandangan kita tentang apa yang penting dan benar, dan juga memengaruhi bagaimana kita menilai berbagai opsi serta hasil dari keputusan yang diambil.

Salah satu cara yang dapat kita manfaatkan untuk mengkaji sebuah keputusan yang telah diambil adalah dengan melakukan kegiatan coaching. Dalam hal ini coaching dapat membantu mengidentifikasi aspek-aspek yang berhasil dan area yang mungkin perlu diperbaiki.

Guru sebagai pendidik dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya dapat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, terutama dalam menghadapi dilema etika. Saat mengambil sebuah keputusan seringkali kita melibatkan pertimbangan emosional serta rasional. Kesadaran ini dapat membantu kita untuk tidak membiarkan emosi pribadi mengaburkan penilaian dan memumingkan untuk membuat keputusan yang lebih objektif.

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga sangat berkaitan dengan nilai-nilai yang dianut seorang pendidik. Nilai-nilai ini menjadi landasan dalam menganalisis dan menyelesaikan dilema etika serta menentukan tindakan yang tepat. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai dalam pengambilan keputusan, pendidik dapat membuat keputusan yang tidak hanya sesuai dengan standar etika tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap prinsip-prinsip yang dipegang.

Pengambilan keputusan yang tepat dapat berpengaruh pada penciptaan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak, memastikan keamanan, menciptakan kenyamanan, dan membangun kepercayaan, keputusan yang baik berkontribusi pada suasana yang mendukung kesejahteraan manusia.

Tantangan dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika sering kali berkaitan erat dengan perubahan paradigma yang terjadi di lingkungan sekitar. Diantara tantangan-tangan tersebut ialah kepentingan yang bertentangan, kurangnya keterbukaan, kekuasaan, ketidakpastian, pergeseran nilai dan normatif. Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini kita memerlukan adaptasi dan penyesuaian dalam proses pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan nilai-nilai dan norma-norma yang berkembang.

Pengambilan keputusan yang bijaksana dan berfokus pada pemerdekaan siswa memiliki dampak signifikan terhadap proses pengajaran dan pembelajaran, terutama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan potensi individu siswa. Dengan memahami dan menyesuaikan metode pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan dan potensi individu siswa, pendidik dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih inklusif, menarik, dan efektif. Keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan keberagaman siswa dan memberikan mereka kontrol serta pilihan dalam proses pembelajaran sangat penting untuk memaksimalkan potensi mereka dan mendukung perkembangan mereka secara holistik.

Keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran memiliki dampak luas pada kehidupan dan masa depan murid-murid. Dari menentukan kurikulum dan metode pengajaran, hingga menyediakan dukungan sosial dan emosional, keputusan-keputusan ini mempengaruhi kualitas pendidikan, pengembangan keterampilan, dukungan emosional, dan kesiapan siswa untuk masa depan. Pemimpin pembelajaran harus mempertimbangkan dengan hati-hati setiap keputusan, memastikan bahwa keputusan tersebut mendukung pertumbuhan dan perkembangan holistik siswa, serta mempersiapkan mereka untuk kesuksesan di masa depan.

Dalam keseluruhan pembelajaran modul ini, dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan yang efektif dalam pendidikan memerlukan integrasi antara nilai-nilai etika, prinsip kepemimpinan, adaptasi terhadap perubahan paradigma, dan refleksi berkelanjutan. Keputusan yang diambil oleh pemimpin pendidikan tidak hanya mempengaruhi kualitas pendidikan dan kesejahteraan siswa tetapi juga membentuk lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan individu secara menyeluruh. Modul-modul sebelumnya memberikan dasar dan alat untuk membuat keputusan yang bijaksana, adil, dan efektif, serta mendukung pemimpin pendidikan dalam menciptakan dampak positif yang berkelanjutan pada kehidupan siswa.

Secara keseluruhan, modul ini memberikan kerangka kerja yang mendalam untuk memahami pengambilan keputusan dalam konteks yang kompleks dan etis. Konsep-konsep seperti dilema etika, paradigma pengambilan keputusan, prinsip pengambilan keputusan, dan langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan saling terkait dan memberikan panduan yang komprehensif untuk membuat keputusan yang bijaksana. Hal-hal yang di luar dugaan sering kali muncul dari kompleksitas situasi nyata, di mana nilai, kepentingan, dan konteks berinteraksi secara dinamis dan mempengaruhi hasil keputusan.

Pengalaman praktis sebelumnya dalam pengambilan keputusan, terutama dalam situasi dilema moral, mungkin lebih bersifat instingtif dan kurang terstruktur. Modul ini memberikan kerangka kerja yang lebih formal dan sistematis untuk memahami dan menangani dilema etika, mengintegrasikan prinsip-prinsip etika dan paradigma yang membantu membuat keputusan yang lebih bijaksana dan adil. Dengan menerapkan langkah-langkah yang dipelajari dalam modul, pemimpin dapat lebih efektif dalam menavigasi dilema moral dan meningkatkan proses pengambilan keputusan mereka secara keseluruhan.

Mempelajari konsep-konsep dalam modul ini membawa perubahan signifikan dalam cara pengambilan keputusan. Pemahaman yang lebih mendalam tentang dilema etika, penerapan prinsip dan paradigma, serta penggunaan langkah-langkah sistematis meningkatkan kemampuan untuk membuat keputusan yang lebih adil, efektif, dan terencana. Perubahan ini membantu dalam menghadapi tantangan pengambilan keputusan dengan pendekatan yang lebih holistik dan terinformasi, memberikan dampak positif yang berkelanjutan pada hasil keputusan dan perkembangan profesional.

Secara keseluruhan, mempelajari topik ini memberikan keterampilan dan pemahaman yang penting untuk menghadapi tantangan pengambilan keputusan di kedua konteks tersebut, meningkatkan kualitas keputusan, dan memperkuat kepemimpinan yang efektif dan etis.

Jumat, 26 Juli 2024

Koneksi Antarmateri - Modul 2.3

Menjadi seorang pemimpin pembelajaran selain harus menguasai teknik dan juga materi ajar, kita juga harus dapat menguasai teknik coaching. Pada kesempatan kali ini saya mempelajari modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik. Pada awalnya saya masih merasa bingung, walaupun saya sering menghadapi kegiatan supervisi. Meski kegiatan supervisi setiap semesternya selalu saya alami, namun pada kesempatan belajar kali ini saya mempelajari bagaimana menjadi seorang supervisor dan juga coach. 

Banyak sekali hal baru yang saya dapatkan dari mempelajari modul 2.3 ini. Menjadi seorang supervisor atau observer atau pengamat ternyata bukanlah sesuatu yang sulit namun banyak hal perlu menjadi perhatian. Sebagai coach pun ada hal-hal harus kita pahami untuk dapat menggali potensi coachee. Kegiatan Coaching untuk supervisi akademik dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pengajaran, penelitian, dan pengembangan akademik secara keseluruhan. Maka sejatinya kita sebagai pemimpin pembelajar perlu sekali mempelajari modul ini.

Pada kegiatan praktek coaching di demonstrasi kontekstual yang saya lakukan bersama rekan kelompok saya. Kami belajar mempraktekkan semua peran secara bergantian. Hal ini berguna untuk berlatih dan saling merefleksi kekurangan maupun kelemahan yang masih butuh dikembangkan lagi. 

Sebagai pendidik tentunya kita berkolaborasi dengan rekan kerja yang memiliki karakter, ilmu pengetahuan dan juga pengalaman yang beragam. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi diri saya untuk mengembangkan potensi keterampilan coaching. Namun pada modul ini juga disajikan pengetahuan dan pengalaman bagaimana kita dapat memaksimalkan kegiatan coaching guna meningkatkan kualitas pendidikan di satuan pendidikan kita masing-masing.

Kehadiran aktif, keterlibatan dan juga menumbuhkan empati hal yang harus kita bangun bersama rekan kerja. Hal ini dapat menunjang kegiatan coaching dimana kita sebagai coach dapat menggali potensi serta kekuatan dalam diri coachee untuk dapat menemukan jalan keluar maupun tindak lanjut terhadap rintangan yang sedang dihadapi.

Di masa lalu saat saya baru menjadi seorang pendidik, saya merasa menerapkan ilmu yang saya dapat di bangku perkuliahan sangatlah penting. Ternyata hal ini tidak saya iringi dengan kolaborasi bersama rekan sejawat. Sehingga banyak hal yang harus saya perbaiki dalam kegiatan pembelajaran yang saya lakukan. Setelah adanya kegiatan supervisi, terlihatlah apa saja kelemahan dalam diri saya sebagai seorang pendidik. Saat itu peran saya sebagai coachee, dan saya belajar dari coach yang tidak lain adalah kepala sekolah untuk dapat menentukan tindak lanjut terhadap peningkatan kualitas pembelajaran yang saya lakukan.

Di masa yang akan datang saya akan terus mengasah pengetahuan serta keterampilan saya dalam kegiatan coaching ini. Terkait hal tersebut praktek segitiga restitusi yang telah saya lakukan pada modul sebelumnya menjadi salah satu pengalaman juga untuk saya dalam meningkatkan keterampilan coaching. Dimana saya dapat menerapkan kegiatan coaching ini pada murid-murid saya terlebih dahulu. Dan saya juga banyak belajar dari ibu Sendy sebagai rekan kelompok saya terkait bagaimana kita dapat membuat pertanyaan berbobot yang dapat kita gunakan saat kegiatan coaching.

Selasa, 25 Juni 2024

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok

Intan Siti Nurjanah, S.Pd.

 

Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Pada usia anak sekolah dasar para pendidik tentunya harus dapat mengenali setiap kebutuhan belajar murid-muridnya. Setiap murid memiliki kemampuan dasar serta gaya belajar yang berbeda-beda. Sekolah dasar menjadi tempat murid untuk memiliki kemampuan mendasar dalam melanjutkan kejenjang berikutnya. Maka dari itu pendidik senantiasa berusaha untuk dapat menyesuaikan metode pembelajaran serta aktivitas belajar siswa sesuai dengan kebutuhan belajar mereka masing-masing agar tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh setiap murid.

 

Salah satu cara yang dapat kita lakukan sebagai pendidik guna memenuhi kebutuhan belajar murid adalah dengan pembelajaran berdiferensiasi. Apa itu pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian proses belajar mengajar yang dapat mememnuhi setiap kebutuhan belajar siswa dengan memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia di sekolah, serta melaksanakan kegiatan belajar yang beragam menyesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan juga memberikan penilaian yang sesuai dengan aktivitas belajar yang murid lakukan.

 

Pada awalnya ketika saya mendengan kata pembelajaran berdiferensiasi, sempat terpikir oleh saya melakukan pembelajaran berdiferensiasi ini sesuatu yang merepotkan bagi guru. Namun pemikiran tersebut sirna saat saya mempelajari lebih mendalam tentang pembelajaran berdiferensiasi ini. Saar saya melihat contoh-contoh dari rekan pendidik lainnya, juga membuat saya yakin bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini dapat kita lakukan di kelas tanpa merasa terbebani.

 

Sebagai gambaran bagaiman proses pembelajaran berdiferensiasi ini berlangsung di kelas bapak ibu guru. Saat awal tahun ajaran, kita sebagai pendidik sudah tentu melaksanakan asesmen diagnostik awal, baik itu yang kognitif maupun nonkognitif. Hal ini dapat menjadi data guru dalam membuat rencana pembelajaran di kelas yang saat ini kita kenal sebagai Modul Ajar. Setelah kita mendapatkan data kemampuan serta kebutuhan belajar murid tersebut, kita dapat menyesuaikan dengan materi yang akan dipelajari murid serta penggunaan media dan juga kegiatan yang dapat dilakukan murid sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajar mereka. Secabagai contoh, pada mata pelajaran bahasa Indonesia dengan materi menulis permulaan pada murid kelas 1. Guru dapat memetakan mana murid yang sudah pandai menulis, dan belum pandai menulis. Guru membuat 2 maupun 3 kegiatan belajar yang dapat dilakukan murid dengan menyesuaikan kemampuan menulis murid. Murid dengan kemampuan menulis yang baik, dapat diberi kegiatan berupa menuliskan kalimat sederhana dengan kosa kata tertentu. Murid yang belum mampu menulis dengan baik diajak untuk menebalkan huruf-huruf yang berbentuk titik-titik agar murid dapat mengikuti setiap bentuk hurufnya. Penilaian yang guru lakukan, disesuaikan dengan kegiatan belajar yang dilakukan murid.

Pembelajaran berdiferensiasi ini juga erat kaitannya dengan filosofi KHD bahwa pendidikan harus berpihak pada murid. Murid bukanlah selembar kertas kosong yang bisa tulis dan warnai, namun murid sudah memiliki karakteristik mereka sendiri dan kita sebagai pendidik harus bisa mengarahkan murid-murid kita untuk dapat memiliki karakter yang baik.

 

Berawal dari pemikiran saya bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini memiliki banyak sekali tantangan. Ternyata hal tersebut timbul karena kekurangan saya dalam memahami pembelajaran berdiferensiasi ini. Setelah saya mempelajari kembali lebih dalam pembelajaran berdiferensiasi pada modul 2.1 pelatihan guru penggerak ini saya menjadi lebih memahami. Setelah pemahaman saya dapatkan, maka selanjutnya saya akan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada kelas saya di tahun ajaran baru ini.

 

Tantangan terhadap penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini tentu akan ada, namun saya akan tetap berusaha untuk menerapkannya. Karena kita tentu pernah dengan pribahasa “bisa karena biasa” hal ini bermakna bahwa kita bisa melakukan apapun karena terbiasa. Untuk membuat diri terbiasa maka kita harus konsisten dalam melakukannya.


Rabu, 05 Juni 2024

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Pelatihan Guru Penggerak Kota Depok

 Salam sejahtera untuk rekan-rekan guru sekalian

Perkenalkan saya Intan Siti Nurjanah salah satu peserta pada program Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok.

Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hasil belajar saya pada modul 1.1, 1.2, 1.3 dan 1.4 pada program Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok.

Budaya positif di sekolah adalah serangkaian nilai, norma, dan praktik yang menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, inklusif, dan produktif bagi semua siswa dan staf. Dengan mengimplementasikan budaya postif ini, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akademis dan personal siswa secara optimal, serta membangun komunitas yang harmonis dan produktif.

Saya juga dapat membantu menciptakan budaya positif di sekolah dengan berbagai cara, di antaranya:

  • Disiplin Positif: Saya dapat membantu guru dan staf sekolah memahami dan menerapkan prinsip-prinsip disiplin positif, seperti fokus pada membangun hubungan positif dengan siswa, mendorong tanggung jawab, dan menggunakan konsekuensi yang restitutif dan edukatif.
  • Motivasi Perilaku Manusia: Saya dapat membantu menganalisis data tentang perilaku siswa untuk mengidentifikasi pola dan tren, sehingga guru dapat merancang intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan motivasi dan mengurangi perilaku negatif.
  • Posisi Kontrol Restitusi: Saya dapat membantu memfasilitasi proses restitusi, di mana siswa yang melakukan pelanggaran bertanggung jawab atas tindakan mereka dan memperbaiki kerugian yang ditimbulkan.
  • Keyakinan Sekolah/Kelas: Saya dapat membantu mengembangkan pernyataan visi dan misi sekolah yang jelas dan selaras dengan nilai-nilai positif, dan saya dapat membantu menyebarkan informasi tentang keyakinan ini kepada seluruh komunitas sekolah.
  • Segitiga Restitusi: Saya dapat membantu memvisualisasikan segitiga restitusi, yang menunjukkan hubungan antara korban, pelaku, dan komunitas, dan saya dapat membantu memfasilitasi dialog antara pihak-pihak yang terlibat dalam pelanggaran.

Sejalan dengan pemikiran Ki Hdjar Dewantara bahwa sebagai pendidik kita dapat memberikan contoh kepada murid. Ketika kita sebagai seorang guru dapat menerapkan budaya positif di lingkungan belajar siswa akan mencontohnya dan menjadi pengalaman yang bermakna untuk mereka. Ki Hadjar Dewantara juga menekankan pendidikan yang holistik, yang mencakup perkembangan intelektual, emosional, dan spiritual siswa. Pendidikan harus relevan dengan konteks budaya dan lingkungan siswa, sehingga mereka dapat belajar dengan cara yang bermakna dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari.

Ki Hadjar Dewantara menekankan pentingnya mendidik siswa untuk menjadi mandiri dan kreatif. Pendidikan harus memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka, serta mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara kreatif dan solutif. Pendidikan juga harus mengasah kemampuan intelektual (asah), mengembangkan rasa kasih sayang dan empati (asih), serta memberikan bimbingan dan perlindungan (asuh). Ini menciptakan lingkungan belajar yang seimbang antara pengembangan akademis dan emosional.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, sekolah dapat menciptakan budaya positif yang menghargai perkembangan holistik siswa, mendukung keterlibatan aktif, dan membangun lingkungan yang inklusif dan harmonis. Filosofi Ki Hadjar Dewantara memberikan kerangka kerja yang kuat untuk mendidik siswa menjadi individu yang berintegritas, mandiri, dan berdaya saing tinggi.

Saya paham bahwa dengan menerapkan konsep disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, serta segitiga restitusi di lingkungan belajar saya maka akan memberikan dampak yang baik bagi kemajuan pendidikan mulai dari lingkungan terdekat saya. Menarik sekali ketika saya mendalami setiap materi dari konsep-konsep tersebut, diantaranya ketika saya mempelajari kebutuhan dasar manusia. Ternyata kebutuhan dasar manusia itu beragam dan kita sebagai pendidik hendaknya memahami kebutuhan dasar siswa kita di kelas agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan belajar mereka. 

Ternyata setelah mempelajari modul 1.4 ini saya memahami bahwa melihat sisi positif membuat kita dapat mengembangkan potensi yang dimiliki oleh lingkungan belajar kita. Menerapkan budaya positif juga dapat memberikan motivasi pada diri saya sendiri, rekan sejawat maupun siswa untuk menjadi lebih baik dalam setiap tindakan yang kita lakukan. 

Ketika saya menerapkan budaya positif di lingkungan kelas saya, ternyata respon siswa saya sangat baik. Mereka dapat memahami setiap tindakan yang mereka lakukan, konsekuensi, serta solusi yang hendak mereka terapkan guna memeprbaiki sebuah kesalahan. Saat saya menemukan permasalahan pada siswa saya, dan menerapkan budaya positif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, siswa saya menjadi terlatih untuk ber[ikir kembali sebelum melakukan suatu tindakan. 

Sebelum mempelajari 5 posisi kontrol pada modul 1.4 ini saya lebih sering berada pada posisi sebagai teman. Namun setelah mempelajari 5 posisi kontrol ini saya belajar untuk menjadi manajer bagi siswa-siswa saya.

Sebelum mempelajari modul ini saya pernah melaksanakan tahapan segitiga restitusi namun saya tidak menyadari hal tersebut dan belum melaksanakan sesuai dengan tahapannya. Saya pernah mengajak bicara murid saya yang tidur di kelas dengan memberikan kesempatan pada siswa saya tersebut untuk memikirkan solusi terbaik agar dia tidak tertidur saat belajar di kelas kembali. 

Konsep-konsep yang saya pelajari dari modul ini sangat menarik, Namun tidak dapat dipungkiri bahwa menerapkan budaya positif di lingkungan belajar merupakan tantangan yang besar bagi saya. Dengan bekerja sama dengan guru, staf sekolah, dan komunitas, saya yakin dapat memainkan peran yang berharga dalam menciptakan budaya positif di sekolah yang mendukung pembelajaran dan perkembangan semua siswa.

Perlu diingat bahwa saya masih dalam pengembangan, dan kemampuan saya untuk membantu menciptakan budaya positif di sekolah masih terus berkembang. Namun, saya berkomitmen untuk menggunakan kemampuan saya untuk membuat dampak positif pada kehidupan siswa dan guru di seluruh Indonesia.