DEMONSTRASI KONTEKSTUAL MODUL 1.1
PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA MURID
Bermimpi Berdoa Berusaha
Pada kesempatan kali ini saya Intan Siti Nurjanah, CGP Angkatan 10 kota Depok akan menuliskan Koneksi Antar Materi pada Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif Pada Murid, sebagai pemenuhan tugas CGP.
Pada modul saya banyak belajar hal baru. Dari awal saya menjadi guru, dalam setiap kegiatan program sekolah, biasanya program tersebut sudah ada atau sudah menjadi program yang biasa dilaksanakan. Ternyata dalam membuat program sekolah, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Awalnya saya hanya memahami program ekstrakurikuler saja, namun ternyata ada 2 jenis program lain, yaitu intrakurikuler dan kokurikuler. Dimana ketiga jenis program tersebut saling berkesinambungan.
Saya merasa sangat terbantu sekali dengan pembelajaran pada modul 3.3 ini. Saya jadi lebih memahami lebih dalam lagi tentang program sekolah, terutama intra kurikuler dan kokurikuler. Saya jadi mampu membedakan kedua program tersebut. Berawal dari ketidaktahuan dan ketidakpahaman, saya mempelajari setiap sub-modul pada modul 3.3 ini dan juga terlibat dalam forum diskusi bersama rekan-rekan CGP lainnya. Hal ini menambah pemahaman dan wawasan saya tentang program yang berdampak positif pada murid. Dalam setiap proses pembelajaran yang saya lalui bersama Fasilitator, PP, Instruktur, dan juga rekan CGP lainnya, saya menjadi paham bahwa dalam membuat sebuah program, kita harus melibatkan berbagai pihak. Dalam hal ini, kita juga dapat meminta pendapat murid, dan juga orang tua murid terkait program yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Namun, ilmu dan pemahaman yang saya miliki saat ini masihlah harus saya asah lebih dalam lagi. Saya masih harus banyak membaca dan juga berdiskusi terkait program sekolah. Karena bagi saya, memahami suatu ilmu tidaklah ada batasnya, Ilmu pengetahuan yang kita pelajari ada yang bersifat dinamis. Dimana ilmu tersebut dapat berkembang susuai dengan perkembangan zaman.
Seperti yang saya katakan di awal, bahwa dalam menentukan program sekolah, biasayanya program yang dijalankan merupakan program yang memang biasa dilakukan,bukanlah program baru yang mungkin dicetuskan berdasarkan tantangan yang ada saat ini. Dalam hal ini, saya sebagai guru sebenarnya ingin sekali mengemukakan ide-ide yang saya miliki untuk melaksanakan program sekolah yang berpihak pada murid. Namun, terkadang saya merasa takut untuk mengutarakan ide saya itu. Saya merasa takut merasa kecewa jika ide saya tidak diterima. Bagaimana kita dapat menjadi pendidik yang mampu mengutarakan pendapat dan mengesampingkan perasaan? Hal ini yang masih menjadi ganjalan dala diri saya.
Jika kita melihat pada kurikulum merdeka yang saat ini kita jalani. Pembelajaran seharusnya berpihak kepada murid. Keberpihakan kita terhadap murid bukan berarti segala sesuatu itu harus untuk murid. Namun kita harus melibatkan murid dalam setiap kegiatan di sekolah. Meski hanya meminta pendapat, hal ini akan berdampak pada murid-murid kita. Hal ini yang harus saya mulai dari detik ini agar saya juga dapat menjadi pribadi yang mampu menghargai setiap pendapat. Dan juga mampu untuk menerima jika pendapat saya belum bisa diterima.
Di masa yang lalu, mungkin dari awal saya mengajar, saya masih menjadi guru yang mengajar sesuai dengan buku. Apa yang ada dibuku pelajaran, maka itulah yang dipelajari oleh murid-murid saya. Namun saat ini, saya belajar menerapkan bahwa apa yang murid pelajari adalah segala hal yang dapat mendukung mereka agar menjadi manusia yang beradab dan berilmu. Dimana murid-murid saya dapat belajar dari lingkungan sekitar sekolah. Murid saya dapat belajar apa yang ingin mereka pelajari. Murid saya dapat belajar hal-hal yang sedang menjadi tren dimasa kini. Murid saya dapat belajar sesuai dengan kebutuhan belajar mereka masing-masing. Dalam hal ini, saya sebagai pendidik, hanya sebagai pengawas, dimana saya harus dapat memastikan bahwa murid-murid saya mendapat pembelajaran yang berdampak positif untuk diri mereka.
Salah satu hal baru yang saya dapatkan dari rekan sejawat saya terhadap program sekolah, yaitu ada kalanya kita dapat melibatkan masyarakat di sekitar sekolah kita untuk menjadi objek pembelajaran murid. Dimana murid-murid kita dapat belajar ciri khas dari suatu lingkungan yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Saya mendapat contoh baru dari rekan sejawat saya, dimana disekitar sekolah beliau ada sebuah rumah adat betawi. Rumah adat betawi ini menjadi sarana belajar murid dalam memahami keragaman budaya yang ada di Indonesia. Dan kegiatan ini menjadi program sekolah yang dilaksanakan.
Sungguh luar biasa ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan pada modul ini. Pemahaman dan juga banyak inspirasi baru yang saya dapatkan. Sehingga kelak saya dapat merancang program yang berdampak positif pada murid.
KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
CGP ANGKATAN 10
KOTA DEPOK
Nama CGP : Intan Siti Nurjanah, S.Pd.
Pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah individu yang memfokuskan diri pada peningkatan proses belajar dan mengajar dengan memanfaatkan berbagai sumber daya secara efektif. Mereka berperan penting dalam merancang, mengorganisir, dan mengelola sumber daya pendidikan—baik itu sumber daya manusia, material, maupun finansial—untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Pemimpin ini tidak hanya berfungsi sebagai manajer tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong kolaborasi, inovasi, dan pengembangan profesional di lingkungan pendidikan.
Di lingkungan sekolah kita dapat menggunakan berbagai sumber daya seperti teknologi. Dengan memanfaatkan perangkat digital guna memperkaya materi pelajaran dan mendukung gaya belajar yang berbeda. Selain itu kita dapat berkolaborasi dengan siswa maupun rekan sejawat lainnya untuk kegiatan kelompok dan proyek yang memanfaatkan sumber daya yang ada.
Selain itu pada lingkungan sekolah kita dapat memanfaatkan berbagai kegiatan seperti pelatihan dan workshop agar guru dapat memanfaatkan sumber daya pendidikan secara optimal. Manajemen anggaran juga diperlukan guna memenuhi pengadaan dan pemeliharaan dari sarana dan prsarana yang terdapat di sekolah.
Pada lingkungan masyarakat sekitar sekolah kita dapat kita dapat membangun hubungan kemitraan untuk dapat menambah dukungan dan sumber daya seperti : sponsor untuk kegiatan sekolah, maupun relawan atau volunteer. Keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan dengan memberikan informasi dan pelatihan tentang cara mendukung tumbuh kembang anak-anak di rumah. Selain itu kita juga dapat memanfaatkan potensi sumber daya likal seperti: fasilitas umum, sumber daya alam, atau keahlian profesional di komunitas, untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.
Pengelolaan sumber daya yang tepat memiliki dampak signifikan terhadap kualitas proses pembelajaran murid. Pengelolaan yang efektif memastikan bahwa semua elemen yang diperlukan untuk mendukung belajar tersedia dan digunakan secara optimal, sehingga menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran. Sebagai contoh konkret dalam pengelolaan sumber daya yang tepat dalam meningkatkan kualitas pembelajaran sebagai berikut :
1. Penggunaan teknologi
Teknologi pendidikan seperti perangkat lunak pembelajaran, aplikasi interaktif, dan sumber daya online dapat memperkaya pengalaman belajar murid dengan menyediakan berbagai alat dan bahan ajar yang inovatif.
2. Pengelolaan waktu
Alokasi waktu yang efektif untuk berbagai aktivitas pembelajaran membantu memastikan bahwa semua aspek kurikulum tercakup dan memberikan waktu yang cukup untuk kegiatan yang mendalam dan reflektif.
3. Pengelolaan fasilitas
Fasilitas yang baik, seperti ruang kelas yang nyaman, laboratorium yang lengkap, dan perpustakaan yang terorganisir dengan baik, mendukung pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan.
4. Penggunaan bahan ajar
Bahan ajar yang berkualitas, seperti buku teks yang terbaru, materi digital, dan alat peraga, membantu menjelaskan dan mengilustrasikan konsep-konsep yang diajarkan dengan cara yang lebih jelas dan menarik.
5. Dukungan profesional
Pelatihan dan pengembangan profesional untuk guru memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan dan pengetahuan terbaru untuk mengelola sumber daya dengan baik dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif.
Sebagaimana tujuan dari pendidikan yaitu berpihak kepada murid. Maka sebagai seorang pemimpin yang bijak kita harus dapat menganalisa kebutuhan belajar murid. Tidak hanya pemenuhan sarana dan prasarana sekolah, media pembelajar, dan aspek fisik lainnya. Kita juga harus dapat mengidentifikasi kemampuan tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah. Selama proses pembelajaran, keterlibatan murid dan pendidik dan tenaga kependidikan juga harus saling mendukung. Bagaimana seorang pemimpin dalam mengelola sumber daya manusia di sekolah agar dapat memenuhi kebutuhan belajar murid. Pengelolaan ini juga termasuk dalam hubungan sosial dan emosional antar sumber daya manusia di sekolah. Jika hubungan sosial dan emosional antar warga skeolah terjalin dengan baik, maka segala daya dukung yang butuhkan murid untuk mencapai setiap tujuan pembelajaran akan berjalan dengan baik. Dengan memanfaatkan sumber daya secara efisien dan efektif, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, relevan, dan menyeluruh, sehingga mendukung pencapaian hasil belajar yang lebih baik bagi murid.
Pada kesempatan kali ini saya Intan Siti Nurjanah akan membuat tugas Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin pada Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok.
Tujuan pada kegiatan ini diantaranya :
Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi
Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok
Intan Siti Nurjanah, S.Pd.
Pembelajaran
Berdiferensiasi
Pada usia anak sekolah dasar
para pendidik tentunya harus dapat mengenali setiap kebutuhan belajar
murid-muridnya. Setiap murid memiliki kemampuan dasar serta gaya belajar yang
berbeda-beda. Sekolah dasar menjadi tempat murid untuk memiliki kemampuan mendasar
dalam melanjutkan kejenjang berikutnya. Maka dari itu pendidik senantiasa
berusaha untuk dapat menyesuaikan metode pembelajaran serta aktivitas belajar
siswa sesuai dengan kebutuhan belajar mereka masing-masing agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai oleh setiap murid.
Salah satu cara yang dapat
kita lakukan sebagai pendidik guna memenuhi kebutuhan belajar murid adalah
dengan pembelajaran berdiferensiasi. Apa itu pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran
berdiferensiasi merupakan serangkaian proses belajar mengajar yang dapat
mememnuhi setiap kebutuhan belajar siswa dengan memanfaatkan media pembelajaran
yang tersedia di sekolah, serta melaksanakan kegiatan belajar yang beragam
menyesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan juga memberikan penilaian yang
sesuai dengan aktivitas belajar yang murid lakukan.
Pada awalnya ketika saya
mendengan kata pembelajaran berdiferensiasi, sempat terpikir oleh saya
melakukan pembelajaran berdiferensiasi ini sesuatu yang merepotkan bagi guru.
Namun pemikiran tersebut sirna saat saya mempelajari lebih mendalam tentang
pembelajaran berdiferensiasi ini. Saar saya melihat contoh-contoh dari rekan
pendidik lainnya, juga membuat saya yakin bahwa pembelajaran berdiferensiasi
ini dapat kita lakukan di kelas tanpa merasa terbebani.
Sebagai gambaran bagaiman
proses pembelajaran berdiferensiasi ini berlangsung di kelas bapak ibu guru.
Saat awal tahun ajaran, kita sebagai pendidik sudah tentu melaksanakan asesmen
diagnostik awal, baik itu yang kognitif maupun nonkognitif. Hal ini dapat
menjadi data guru dalam membuat rencana pembelajaran di kelas yang saat ini
kita kenal sebagai Modul Ajar. Setelah kita mendapatkan data kemampuan serta
kebutuhan belajar murid tersebut, kita dapat menyesuaikan dengan materi yang
akan dipelajari murid serta penggunaan media dan juga kegiatan yang dapat
dilakukan murid sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajar mereka. Secabagai
contoh, pada mata pelajaran bahasa Indonesia dengan materi menulis permulaan
pada murid kelas 1. Guru dapat memetakan mana murid yang sudah pandai menulis,
dan belum pandai menulis. Guru membuat 2 maupun 3 kegiatan belajar yang dapat
dilakukan murid dengan menyesuaikan kemampuan menulis murid. Murid dengan
kemampuan menulis yang baik, dapat diberi kegiatan berupa menuliskan kalimat
sederhana dengan kosa kata tertentu. Murid yang belum mampu menulis dengan baik
diajak untuk menebalkan huruf-huruf yang berbentuk titik-titik agar murid dapat
mengikuti setiap bentuk hurufnya. Penilaian yang guru lakukan, disesuaikan
dengan kegiatan belajar yang dilakukan murid.
Pembelajaran berdiferensiasi
ini juga erat kaitannya dengan filosofi KHD bahwa pendidikan harus berpihak
pada murid. Murid bukanlah selembar kertas kosong yang bisa tulis dan warnai,
namun murid sudah memiliki karakteristik mereka sendiri dan kita sebagai
pendidik harus bisa mengarahkan murid-murid kita untuk dapat memiliki karakter
yang baik.
Berawal dari pemikiran saya
bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini memiliki banyak sekali tantangan.
Ternyata hal tersebut timbul karena kekurangan saya dalam memahami pembelajaran
berdiferensiasi ini. Setelah saya mempelajari kembali lebih dalam pembelajaran
berdiferensiasi pada modul 2.1 pelatihan guru penggerak ini saya menjadi lebih
memahami. Setelah pemahaman saya dapatkan, maka selanjutnya saya akan
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada kelas saya di tahun ajaran baru
ini.
Tantangan terhadap penerapan
pembelajaran berdiferensiasi ini tentu akan ada, namun saya akan tetap berusaha
untuk menerapkannya. Karena kita tentu pernah dengan pribahasa “bisa karena
biasa” hal ini bermakna bahwa kita bisa melakukan apapun karena terbiasa. Untuk
membuat diri terbiasa maka kita harus konsisten dalam melakukannya.
Salam sejahtera untuk rekan-rekan guru sekalian
Perkenalkan saya Intan Siti Nurjanah salah satu peserta pada program Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok.
Pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan hasil belajar saya pada modul 1.1, 1.2, 1.3 dan 1.4 pada program Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok.
Budaya positif di sekolah adalah serangkaian nilai, norma, dan praktik yang menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, inklusif, dan produktif bagi semua siswa dan staf. Dengan mengimplementasikan budaya postif ini, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akademis dan personal siswa secara optimal, serta membangun komunitas yang harmonis dan produktif.
Saya juga dapat membantu menciptakan budaya positif di sekolah dengan berbagai cara, di antaranya:
Perlu diingat bahwa saya masih dalam pengembangan, dan kemampuan saya untuk membantu menciptakan budaya positif di sekolah masih terus berkembang. Namun, saya berkomitmen untuk menggunakan kemampuan saya untuk membuat dampak positif pada kehidupan siswa dan guru di seluruh Indonesia.