Selasa, 25 Juni 2024

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi

Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok

Intan Siti Nurjanah, S.Pd.

 

Pembelajaran Berdiferensiasi

 

Pada usia anak sekolah dasar para pendidik tentunya harus dapat mengenali setiap kebutuhan belajar murid-muridnya. Setiap murid memiliki kemampuan dasar serta gaya belajar yang berbeda-beda. Sekolah dasar menjadi tempat murid untuk memiliki kemampuan mendasar dalam melanjutkan kejenjang berikutnya. Maka dari itu pendidik senantiasa berusaha untuk dapat menyesuaikan metode pembelajaran serta aktivitas belajar siswa sesuai dengan kebutuhan belajar mereka masing-masing agar tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh setiap murid.

 

Salah satu cara yang dapat kita lakukan sebagai pendidik guna memenuhi kebutuhan belajar murid adalah dengan pembelajaran berdiferensiasi. Apa itu pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian proses belajar mengajar yang dapat mememnuhi setiap kebutuhan belajar siswa dengan memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia di sekolah, serta melaksanakan kegiatan belajar yang beragam menyesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan juga memberikan penilaian yang sesuai dengan aktivitas belajar yang murid lakukan.

 

Pada awalnya ketika saya mendengan kata pembelajaran berdiferensiasi, sempat terpikir oleh saya melakukan pembelajaran berdiferensiasi ini sesuatu yang merepotkan bagi guru. Namun pemikiran tersebut sirna saat saya mempelajari lebih mendalam tentang pembelajaran berdiferensiasi ini. Saar saya melihat contoh-contoh dari rekan pendidik lainnya, juga membuat saya yakin bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini dapat kita lakukan di kelas tanpa merasa terbebani.

 

Sebagai gambaran bagaiman proses pembelajaran berdiferensiasi ini berlangsung di kelas bapak ibu guru. Saat awal tahun ajaran, kita sebagai pendidik sudah tentu melaksanakan asesmen diagnostik awal, baik itu yang kognitif maupun nonkognitif. Hal ini dapat menjadi data guru dalam membuat rencana pembelajaran di kelas yang saat ini kita kenal sebagai Modul Ajar. Setelah kita mendapatkan data kemampuan serta kebutuhan belajar murid tersebut, kita dapat menyesuaikan dengan materi yang akan dipelajari murid serta penggunaan media dan juga kegiatan yang dapat dilakukan murid sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajar mereka. Secabagai contoh, pada mata pelajaran bahasa Indonesia dengan materi menulis permulaan pada murid kelas 1. Guru dapat memetakan mana murid yang sudah pandai menulis, dan belum pandai menulis. Guru membuat 2 maupun 3 kegiatan belajar yang dapat dilakukan murid dengan menyesuaikan kemampuan menulis murid. Murid dengan kemampuan menulis yang baik, dapat diberi kegiatan berupa menuliskan kalimat sederhana dengan kosa kata tertentu. Murid yang belum mampu menulis dengan baik diajak untuk menebalkan huruf-huruf yang berbentuk titik-titik agar murid dapat mengikuti setiap bentuk hurufnya. Penilaian yang guru lakukan, disesuaikan dengan kegiatan belajar yang dilakukan murid.

Pembelajaran berdiferensiasi ini juga erat kaitannya dengan filosofi KHD bahwa pendidikan harus berpihak pada murid. Murid bukanlah selembar kertas kosong yang bisa tulis dan warnai, namun murid sudah memiliki karakteristik mereka sendiri dan kita sebagai pendidik harus bisa mengarahkan murid-murid kita untuk dapat memiliki karakter yang baik.

 

Berawal dari pemikiran saya bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini memiliki banyak sekali tantangan. Ternyata hal tersebut timbul karena kekurangan saya dalam memahami pembelajaran berdiferensiasi ini. Setelah saya mempelajari kembali lebih dalam pembelajaran berdiferensiasi pada modul 2.1 pelatihan guru penggerak ini saya menjadi lebih memahami. Setelah pemahaman saya dapatkan, maka selanjutnya saya akan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada kelas saya di tahun ajaran baru ini.

 

Tantangan terhadap penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini tentu akan ada, namun saya akan tetap berusaha untuk menerapkannya. Karena kita tentu pernah dengan pribahasa “bisa karena biasa” hal ini bermakna bahwa kita bisa melakukan apapun karena terbiasa. Untuk membuat diri terbiasa maka kita harus konsisten dalam melakukannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar