Jumat, 26 Juli 2024

Koneksi Antarmateri - Modul 2.3

Menjadi seorang pemimpin pembelajaran selain harus menguasai teknik dan juga materi ajar, kita juga harus dapat menguasai teknik coaching. Pada kesempatan kali ini saya mempelajari modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik. Pada awalnya saya masih merasa bingung, walaupun saya sering menghadapi kegiatan supervisi. Meski kegiatan supervisi setiap semesternya selalu saya alami, namun pada kesempatan belajar kali ini saya mempelajari bagaimana menjadi seorang supervisor dan juga coach. 

Banyak sekali hal baru yang saya dapatkan dari mempelajari modul 2.3 ini. Menjadi seorang supervisor atau observer atau pengamat ternyata bukanlah sesuatu yang sulit namun banyak hal perlu menjadi perhatian. Sebagai coach pun ada hal-hal harus kita pahami untuk dapat menggali potensi coachee. Kegiatan Coaching untuk supervisi akademik dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pengajaran, penelitian, dan pengembangan akademik secara keseluruhan. Maka sejatinya kita sebagai pemimpin pembelajar perlu sekali mempelajari modul ini.

Pada kegiatan praktek coaching di demonstrasi kontekstual yang saya lakukan bersama rekan kelompok saya. Kami belajar mempraktekkan semua peran secara bergantian. Hal ini berguna untuk berlatih dan saling merefleksi kekurangan maupun kelemahan yang masih butuh dikembangkan lagi. 

Sebagai pendidik tentunya kita berkolaborasi dengan rekan kerja yang memiliki karakter, ilmu pengetahuan dan juga pengalaman yang beragam. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi diri saya untuk mengembangkan potensi keterampilan coaching. Namun pada modul ini juga disajikan pengetahuan dan pengalaman bagaimana kita dapat memaksimalkan kegiatan coaching guna meningkatkan kualitas pendidikan di satuan pendidikan kita masing-masing.

Kehadiran aktif, keterlibatan dan juga menumbuhkan empati hal yang harus kita bangun bersama rekan kerja. Hal ini dapat menunjang kegiatan coaching dimana kita sebagai coach dapat menggali potensi serta kekuatan dalam diri coachee untuk dapat menemukan jalan keluar maupun tindak lanjut terhadap rintangan yang sedang dihadapi.

Di masa lalu saat saya baru menjadi seorang pendidik, saya merasa menerapkan ilmu yang saya dapat di bangku perkuliahan sangatlah penting. Ternyata hal ini tidak saya iringi dengan kolaborasi bersama rekan sejawat. Sehingga banyak hal yang harus saya perbaiki dalam kegiatan pembelajaran yang saya lakukan. Setelah adanya kegiatan supervisi, terlihatlah apa saja kelemahan dalam diri saya sebagai seorang pendidik. Saat itu peran saya sebagai coachee, dan saya belajar dari coach yang tidak lain adalah kepala sekolah untuk dapat menentukan tindak lanjut terhadap peningkatan kualitas pembelajaran yang saya lakukan.

Di masa yang akan datang saya akan terus mengasah pengetahuan serta keterampilan saya dalam kegiatan coaching ini. Terkait hal tersebut praktek segitiga restitusi yang telah saya lakukan pada modul sebelumnya menjadi salah satu pengalaman juga untuk saya dalam meningkatkan keterampilan coaching. Dimana saya dapat menerapkan kegiatan coaching ini pada murid-murid saya terlebih dahulu. Dan saya juga banyak belajar dari ibu Sendy sebagai rekan kelompok saya terkait bagaimana kita dapat membuat pertanyaan berbobot yang dapat kita gunakan saat kegiatan coaching.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar