Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi
Pelatihan Guru Penggerak Angkatan 10 Kota Depok
Intan Siti Nurjanah, S.Pd.
Pembelajaran
Berdiferensiasi
Pada usia anak sekolah dasar
para pendidik tentunya harus dapat mengenali setiap kebutuhan belajar
murid-muridnya. Setiap murid memiliki kemampuan dasar serta gaya belajar yang
berbeda-beda. Sekolah dasar menjadi tempat murid untuk memiliki kemampuan mendasar
dalam melanjutkan kejenjang berikutnya. Maka dari itu pendidik senantiasa
berusaha untuk dapat menyesuaikan metode pembelajaran serta aktivitas belajar
siswa sesuai dengan kebutuhan belajar mereka masing-masing agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai oleh setiap murid.
Salah satu cara yang dapat
kita lakukan sebagai pendidik guna memenuhi kebutuhan belajar murid adalah
dengan pembelajaran berdiferensiasi. Apa itu pembelajaran berdiferensiasi? Pembelajaran
berdiferensiasi merupakan serangkaian proses belajar mengajar yang dapat
mememnuhi setiap kebutuhan belajar siswa dengan memanfaatkan media pembelajaran
yang tersedia di sekolah, serta melaksanakan kegiatan belajar yang beragam
menyesuaikan dengan kemampuan dasar murid dan juga memberikan penilaian yang
sesuai dengan aktivitas belajar yang murid lakukan.
Pada awalnya ketika saya
mendengan kata pembelajaran berdiferensiasi, sempat terpikir oleh saya
melakukan pembelajaran berdiferensiasi ini sesuatu yang merepotkan bagi guru.
Namun pemikiran tersebut sirna saat saya mempelajari lebih mendalam tentang
pembelajaran berdiferensiasi ini. Saar saya melihat contoh-contoh dari rekan
pendidik lainnya, juga membuat saya yakin bahwa pembelajaran berdiferensiasi
ini dapat kita lakukan di kelas tanpa merasa terbebani.
Sebagai gambaran bagaiman
proses pembelajaran berdiferensiasi ini berlangsung di kelas bapak ibu guru.
Saat awal tahun ajaran, kita sebagai pendidik sudah tentu melaksanakan asesmen
diagnostik awal, baik itu yang kognitif maupun nonkognitif. Hal ini dapat
menjadi data guru dalam membuat rencana pembelajaran di kelas yang saat ini
kita kenal sebagai Modul Ajar. Setelah kita mendapatkan data kemampuan serta
kebutuhan belajar murid tersebut, kita dapat menyesuaikan dengan materi yang
akan dipelajari murid serta penggunaan media dan juga kegiatan yang dapat
dilakukan murid sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajar mereka. Secabagai
contoh, pada mata pelajaran bahasa Indonesia dengan materi menulis permulaan
pada murid kelas 1. Guru dapat memetakan mana murid yang sudah pandai menulis,
dan belum pandai menulis. Guru membuat 2 maupun 3 kegiatan belajar yang dapat
dilakukan murid dengan menyesuaikan kemampuan menulis murid. Murid dengan
kemampuan menulis yang baik, dapat diberi kegiatan berupa menuliskan kalimat
sederhana dengan kosa kata tertentu. Murid yang belum mampu menulis dengan baik
diajak untuk menebalkan huruf-huruf yang berbentuk titik-titik agar murid dapat
mengikuti setiap bentuk hurufnya. Penilaian yang guru lakukan, disesuaikan
dengan kegiatan belajar yang dilakukan murid.
Pembelajaran berdiferensiasi
ini juga erat kaitannya dengan filosofi KHD bahwa pendidikan harus berpihak
pada murid. Murid bukanlah selembar kertas kosong yang bisa tulis dan warnai,
namun murid sudah memiliki karakteristik mereka sendiri dan kita sebagai
pendidik harus bisa mengarahkan murid-murid kita untuk dapat memiliki karakter
yang baik.
Berawal dari pemikiran saya
bahwa pembelajaran berdiferensiasi ini memiliki banyak sekali tantangan.
Ternyata hal tersebut timbul karena kekurangan saya dalam memahami pembelajaran
berdiferensiasi ini. Setelah saya mempelajari kembali lebih dalam pembelajaran
berdiferensiasi pada modul 2.1 pelatihan guru penggerak ini saya menjadi lebih
memahami. Setelah pemahaman saya dapatkan, maka selanjutnya saya akan
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada kelas saya di tahun ajaran baru
ini.
Tantangan terhadap penerapan
pembelajaran berdiferensiasi ini tentu akan ada, namun saya akan tetap berusaha
untuk menerapkannya. Karena kita tentu pernah dengan pribahasa “bisa karena
biasa” hal ini bermakna bahwa kita bisa melakukan apapun karena terbiasa. Untuk
membuat diri terbiasa maka kita harus konsisten dalam melakukannya.