Pada kesempatan kali ini saya Intan Siti Nurjanah, CGP Angkatan 10 kota Depok akan menuliskan Koneksi Antar Materi pada Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif Pada Murid, sebagai pemenuhan tugas CGP.
Pada modul saya banyak belajar hal baru. Dari awal saya menjadi guru, dalam setiap kegiatan program sekolah, biasanya program tersebut sudah ada atau sudah menjadi program yang biasa dilaksanakan. Ternyata dalam membuat program sekolah, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Awalnya saya hanya memahami program ekstrakurikuler saja, namun ternyata ada 2 jenis program lain, yaitu intrakurikuler dan kokurikuler. Dimana ketiga jenis program tersebut saling berkesinambungan.
Saya merasa sangat terbantu sekali dengan pembelajaran pada modul 3.3 ini. Saya jadi lebih memahami lebih dalam lagi tentang program sekolah, terutama intra kurikuler dan kokurikuler. Saya jadi mampu membedakan kedua program tersebut. Berawal dari ketidaktahuan dan ketidakpahaman, saya mempelajari setiap sub-modul pada modul 3.3 ini dan juga terlibat dalam forum diskusi bersama rekan-rekan CGP lainnya. Hal ini menambah pemahaman dan wawasan saya tentang program yang berdampak positif pada murid. Dalam setiap proses pembelajaran yang saya lalui bersama Fasilitator, PP, Instruktur, dan juga rekan CGP lainnya, saya menjadi paham bahwa dalam membuat sebuah program, kita harus melibatkan berbagai pihak. Dalam hal ini, kita juga dapat meminta pendapat murid, dan juga orang tua murid terkait program yang dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Namun, ilmu dan pemahaman yang saya miliki saat ini masihlah harus saya asah lebih dalam lagi. Saya masih harus banyak membaca dan juga berdiskusi terkait program sekolah. Karena bagi saya, memahami suatu ilmu tidaklah ada batasnya, Ilmu pengetahuan yang kita pelajari ada yang bersifat dinamis. Dimana ilmu tersebut dapat berkembang susuai dengan perkembangan zaman.
Seperti yang saya katakan di awal, bahwa dalam menentukan program sekolah, biasayanya program yang dijalankan merupakan program yang memang biasa dilakukan,bukanlah program baru yang mungkin dicetuskan berdasarkan tantangan yang ada saat ini. Dalam hal ini, saya sebagai guru sebenarnya ingin sekali mengemukakan ide-ide yang saya miliki untuk melaksanakan program sekolah yang berpihak pada murid. Namun, terkadang saya merasa takut untuk mengutarakan ide saya itu. Saya merasa takut merasa kecewa jika ide saya tidak diterima. Bagaimana kita dapat menjadi pendidik yang mampu mengutarakan pendapat dan mengesampingkan perasaan? Hal ini yang masih menjadi ganjalan dala diri saya.
Jika kita melihat pada kurikulum merdeka yang saat ini kita jalani. Pembelajaran seharusnya berpihak kepada murid. Keberpihakan kita terhadap murid bukan berarti segala sesuatu itu harus untuk murid. Namun kita harus melibatkan murid dalam setiap kegiatan di sekolah. Meski hanya meminta pendapat, hal ini akan berdampak pada murid-murid kita. Hal ini yang harus saya mulai dari detik ini agar saya juga dapat menjadi pribadi yang mampu menghargai setiap pendapat. Dan juga mampu untuk menerima jika pendapat saya belum bisa diterima.
Di masa yang lalu, mungkin dari awal saya mengajar, saya masih menjadi guru yang mengajar sesuai dengan buku. Apa yang ada dibuku pelajaran, maka itulah yang dipelajari oleh murid-murid saya. Namun saat ini, saya belajar menerapkan bahwa apa yang murid pelajari adalah segala hal yang dapat mendukung mereka agar menjadi manusia yang beradab dan berilmu. Dimana murid-murid saya dapat belajar dari lingkungan sekitar sekolah. Murid saya dapat belajar apa yang ingin mereka pelajari. Murid saya dapat belajar hal-hal yang sedang menjadi tren dimasa kini. Murid saya dapat belajar sesuai dengan kebutuhan belajar mereka masing-masing. Dalam hal ini, saya sebagai pendidik, hanya sebagai pengawas, dimana saya harus dapat memastikan bahwa murid-murid saya mendapat pembelajaran yang berdampak positif untuk diri mereka.
Salah satu hal baru yang saya dapatkan dari rekan sejawat saya terhadap program sekolah, yaitu ada kalanya kita dapat melibatkan masyarakat di sekitar sekolah kita untuk menjadi objek pembelajaran murid. Dimana murid-murid kita dapat belajar ciri khas dari suatu lingkungan yang ada di sekitar lingkungan sekolah. Saya mendapat contoh baru dari rekan sejawat saya, dimana disekitar sekolah beliau ada sebuah rumah adat betawi. Rumah adat betawi ini menjadi sarana belajar murid dalam memahami keragaman budaya yang ada di Indonesia. Dan kegiatan ini menjadi program sekolah yang dilaksanakan.
Sungguh luar biasa ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan pada modul ini. Pemahaman dan juga banyak inspirasi baru yang saya dapatkan. Sehingga kelak saya dapat merancang program yang berdampak positif pada murid.